Membumikan Kedaulatan Pendidikan Jakarta:Sinergi Asta Cita dan “Tiga Pilar Utama” Pendidikan LDII

Oleh Thonang Effendi

Di sudut-sudut Jakarta, Agustus selalu datang dengan keriuhan yang akrab. Bendera merah putih berkibar di depan rumah, gang-gang dihiasi umbul-umbul, dan anak-anak berlarian mengikuti lomba tujuh belasan. Di balik riuhnya perayaan itu, ada pemandangan lain yang tak kalah penting: anak-anak Jakarta yang setiap hari berangkat ke sekolah, duduk di ruang kelas, berhadapan dengan guru, lalu pulang membawa bukan hanya buku pelajaran, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana menjadi manusia. Di situlah sesungguhnya kemerdekaan menemukan maknanya yang paling konkret.

Peringatan 81 tahun Indonesia merdeka pada 2026 mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”. Setelah lebih dari delapan dekade merdeka, kedaulatan tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan fisik. Kedaulatan juga berarti kemampuan sebuah bangsa menentukan masa depannya melalui sumber daya manusia yang berilmu, berkarakter, mandiri, serta mampu menguasai sains dan teknologi tanpa kehilangan pijakan moral. Dalam konteks inilah pendidikan menjadi salah satu medan utama perjuangan kebangsaan.

Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan reformasi pendidikan sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Namun, cetak biru kebijakan nasional tidak akan banyak berarti apabila berhenti sebagai dokumen kebijakan. Ia seharusnya turun ke sekolah, masuk ke ruang kelas, menyentuh keluarga, dan hidup dalam lingkungan masyarakat.

Jakarta mempunyai posisi strategis dalam proses tersebut. Sebagai kota metropolitan sekaligus kota global, Jakarta bukan hanya etalase pembangunan Indonesia, tetapi juga laboratorium sosial yang memperlihatkan kompleksitas tantangan pendidikan masa kini. Tawuran pelajar, judi online, tekanan pergaulan, individualisme, serta derasnya arus informasi digital menunjukkan bahwa kemampuan akademik saja tidak selalu cukup untuk membekali anak menghadapi zamannya.

Anak-anak tidak hanya membutuhkan kemampuan menjawab soal. Mereka juga membutuhkan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah, menjaga amanah, bekerja keras, menghargai orang lain, mampu bekerja sama, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Dengan kata lain, pendidikan membutuhkan keseimbangan antara pengetahuan dan karakter. Di titik inilah masyarakat memiliki ruang untuk ikut mengambil bagian.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), melalui Klaster Pendidikan yang merupakan salah satu dari delapan Bidang Pengabdian LDII untuk Bangsa, berupaya mengambil bagian dalam ekosistem tersebut melalui jajaran DPW LDII DKI Jakarta. Kontribusi masyarakat semacam ini tentu bukan untuk menggantikan peran pemerintah, melainkan memperkuat ikhtiar bersama agar kebijakan pendidikan dapat benar-benar membumi di tingkat keluarga dan komunitas.

Lokomotif Kehidupan

Ada satu pertanyaan sederhana yang penting diajukan: anak seperti apa yang ingin kita lahirkan dari sistem pendidikan Indonesia?

Jawabannya tidak cukup dengan mengatakan anak yang pintar. Kita membutuhkan generasi yang memiliki ilmu, memiliki karakter, dan mampu menggunakan keduanya untuk menjalani kehidupan secara mandiri dan bertanggung jawab.

Dalam konteks tersebut, LDII mengembangkan gagasan Tiga Pilar Utama Pendidikan, yaitu Sukses Ilmu Dunia, Sukses Ilmu Akhirat, dan Sukses Karakter. Ketiganya dipandang sebagai satu kesatuan.

Ilmu dunia membekali anak menghadapi kehidupan dan perubahan zaman. Ilmu agama menjadi jangkar spiritual agar kecerdasan tidak kehilangan arah. Sementara karakter menjadi jembatan yang menerjemahkan ilmu dan keyakinan menjadi perilaku nyata.

Sebab, seorang anak mungkin memiliki nilai akademik tinggi, tetapi tanpa kejujuran ia dapat menyalahgunakan kecerdasannya. Ia mungkin menguasai teknologi, tetapi tanpa tanggung jawab teknologi dapat menjadi alat yang merusak dirinya dan orang lain. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang tahu. Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang mau melakukan yang benar.

Dari kerangka tersebut, terdapat tiga frasa kunci yang diposisikan sebagai lokomotif utama 29 karakter luhur dalam khazanah pendidikan karakter LDII yang merupakan penggerak pembentukan pribadi.

Pertama, Tri Sukses: Akhlakul Karimah, Alim-Faqih, dan Mandiri.

Akhlakul Karimah menempatkan karakter luhur sebagai dasar hubungan manusia dengan sesama. Alim-Faqih memberikan fondasi pemahaman agama sebagai jangkar spiritual. Sedangkan mandiri mempersiapkan anak agar mampu berdiri di atas kemampuan sendiri dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya.

Nilai-nilai tersebut ditanamkan secara bertahap sesuai perkembangan usia anak, mulai dari PAUD, usia Cabe Rawit, Pra-Remaja, Remaja, hingga Remaja Mandiri.

Kedua, 6 Thobiat Luhur: Jujur, Amanah, Mujhid-Muzhid, Rukun, Kompak, dan Kerjasama yang Baik.

Di tengah kehidupan metropolitan yang serba cepat, keenam nilai ini menjadi modal sosial yang penting. Kejujuran dan amanah membangun integritas. Mujhid-Muzhid mengajarkan kerja keras sekaligus kesederhanaan. Rukun, kompak, dan kerja sama yang baik mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu dapat dicapai seorang diri.

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya bukan hanya relevan bagi anak-anak hari ini. Ia merupakan bekal bagi manusia yang kelak memasuki dunia kerja, menjadi pemimpin, membangun keluarga, dan mengambil keputusan yang berpengaruh terhadap masyarakat.

Ketiga, 3 Prinsip Kerja: Bener, Kurub, dan Janji.

Bener menempatkan kebenaran sebagai landasan tindakan. Kurub mengajarkan kedekatan dan kepedulian terhadap proses pencapaian tujuan bersama, hasil kerja dan upah kerja yang sebanding. Janji menegaskan pentingnya komitmen untuk menepati tanggung jawab yang telah diberikan.

Jika ketiga lokomotif tersebut bergerak bersama, pendidikan tidak hanya melahirkan manusia yang kompeten, tetapi juga manusia yang memiliki orientasi profesional religius.

Sekolah Karakter di Tingkat Tapak
Gagasan pendidikan karakter akan kehilangan makna jika berhenti sebagai slogan. Karena itu, ukuran keberhasilannya justru dapat dilihat dari seberapa jauh nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Di Jakarta, upaya itu antara lain diwujudkan melalui School of Character atau Sekolah Karakter berbasis komunitas yang berjalan di bawah naungan Majelis Ta’lim binaan LDII.

Data yang dihimpun dari DPW LDII DKI Jakarta menunjukkan bahwa dari 267 kelurahan di wilayah DKI Jakarta, PAC LDII telah eksis dan aktif bergerak di 192 kelurahan yang tersebar di lima kota administrasi dan satu kabupaten administrasi. Di hampir setiap PAC tersebut, rata-rata terdapat dua School of Character.

Angka itu memang bukan ukuran tunggal keberhasilan pendidikan karakter. Namun, ia menunjukkan satu hal penting: pendidikan karakter dapat tumbuh bukan hanya di sekolah formal, tetapi juga di ruang-ruang sosial yang dekat dengan kehidupan anak.

Anak-anak warga LDII yang bersekolah di sekolah negeri, sekolah swasta umum, maupun sekolah formal di lingkungan LDII dapat memperoleh pembinaan karakter secara berjenjang sesuai kelompok usianya. Di sinilah konsep pendidikan menjadi lebih luas.

Sekolah formal memberikan pengetahuan dan pengalaman akademik. Keluarga memberikan keteladanan dan pembiasaan. Sementara komunitas dapat menjadi ruang untuk memperkuat nilai yang telah dipelajari. Ketiganya tidak perlu berjalan sendiri-sendiri. Justru di antara ketiganya terdapat ruang sinergi yang besar.

Seorang anak belajar tentang kejujuran di ruang kelas. Tetapi nilai tersebut baru menjadi karakter ketika ia terbiasa mempraktikkannya di rumah dan lingkungan sosial. Ia belajar tentang kerja sama dalam buku pelajaran. Namun maknanya baru terasa ketika ia bekerja bersama teman, membantu orang lain, dan belajar menyelesaikan persoalan bersama. Karakter pada akhirnya bukan sekadar pengetahuan tentang nilai. Karakter adalah nilai yang telah menjadi kebiasaan.

Membumikan Makna Keadilan

Keadilan pendidikan sering dibicarakan dalam bahasa angka: akses sekolah, kualitas guru, sarana-prasarana, dan pemerataan kesempatan belajar. Semua itu penting. Namun ada satu dimensi yang tidak kalah penting: pemerataan kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia berkarakter.

Dalam konteks tersebut, keberadaan School of Character di tingkat kelurahan dapat dibaca sebagai salah satu bentuk ikhtiar masyarakat untuk memperluas pembinaan karakter hingga tingkat tapak.

Anak dari berbagai latar belakang sekolah formal bertemu dalam ruang pembinaan yang sama. Mereka memperoleh pembiasaan nilai secara berjenjang, sehingga pendidikan karakter tidak berhenti pada pagar sekolah. Inilah salah satu bentuk nyata bagaimana gagasan adil dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Keadilan pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan sekolah terbaik, tetapi juga tentang bagaimana setiap anak memperoleh kesempatan yang layak untuk tumbuh sebagai manusia yang baik, berilmu, mandiri, dan bertanggung jawab.

Dari Jakarta untuk Indonesia

Kita sering membicarakan masa depan Indonesia melalui istilah-istilah besar: swasembada, hilirisasi, transformasi digital, industri 4.0, kecerdasan buatan, dan ekonomi berbasis pengetahuan. Semua itu penting. Tetapi di balik seluruh agenda besar tersebut terdapat manusia.

Teknologi membutuhkan manusia yang berintegritas. Ekonomi membutuhkan manusia yang amanah. Industri membutuhkan manusia yang bekerja keras. Demokrasi membutuhkan manusia yang mampu menghargai perbedaan. Dan negara membutuhkan warga yang bersedia memikul tanggung jawabnya.

Karena itu, investasi terbesar sebuah bangsa sesungguhnya bukan hanya membangun gedung sekolah atau membeli perangkat teknologi. Investasi terbesar adalah membentuk manusia yang mampu menggunakan seluruh kemajuan itu untuk kebaikan. Di sinilah sinergi antara pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat menemukan relevansinya.

Asta Cita memberikan arah pembangunan nasional. Pemerintah daerah menerjemahkannya dalam kebijakan dan program yang sesuai dengan karakter wilayah. Sekolah menjalankannya dalam proses pembelajaran. Keluarga menghidupkannya melalui keteladanan. Sementara masyarakat dapat memperkuatnya melalui berbagai gerakan pendidikan berbasis komunitas.

Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendirian. Jakarta, dengan segala kompleksitasnya, dapat menjadi salah satu contoh bagaimana kedaulatan pendidikan dibumikan melalui kerja bersama.

Peringatan 81 tahun kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada perayaan. Ia harus menjadi momentum untuk bertanya: apa yang sedang kita tanam hari ini untuk dipanen Indonesia beberapa dekade mendatang? Jawabannya mungkin sederhana. Kita sedang menanam manusia.

Manusia yang berilmu agar mampu menguasai zaman. Manusia yang berkarakter agar tidak kehilangan arah. Manusia yang mandiri agar mampu berdiri tegak. Manusia yang professional religius agar memiliki jangkar moral. Dan manusia yang mampu bekerja bersama agar kemajuan tidak hanya dinikmati oleh sebagian orang.

Pada akhirnya, kedaulatan pendidikan tidak cukup dibangun dari atas melalui kebijakan. Ia harus dibumikan dari bawah melalui pembiasaan, keteladanan, dan partisipasi masyarakat. Dari ruang kelas, rumah, masjid, sekolah karakter, dan lingkungan komunitas itulah masa depan Indonesia perlahan dibentuk.

Jika anak-anak Jakarta hari ini belajar untuk jujur, amanah, bekerja keras, hidup rukun, kompak, mampu bekerja sama, berilmu, berkarakter, dan mandiri, sesungguhnya kita sedang menyiapkan fondasi bagi Indonesia yang lebih berdaulat.

Sebab Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur tidak akan hadir hanya karena sebuah tema peringatan. Ia akan lahir dari manusia-manusia yang sejak hari ini dipersiapkan untuk mewujudkannya. Dan pekerjaan itu dimulai dari tempat yang sangat sederhana: ruang pendidikan tempat seorang anak belajar menjadi manusia.

Biografi Penulis
Thonang Effendi adalah Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII dan Wakil Ketua DPW LDII DKI Jakarta. Trainer dan praktisi Learning & People Development, serta pemerhati kebangsaan dan pendidikan.

Related posts

Leave a Comment